"Menulis adalah perjalanan menuju satu kelahiran. Dan karya yang dilahirkan ibarat air nan bergulir bebas di lereng perasaan dan pikiran. Ia dapat tertahan di semak. Ia bisa hinggap di akar yang merambat. Namun ia juga bisa menggelinding lancar untuk melebur dalam samudera luas. Tak ada yang dapat menghitung berapa ceruk di lereng itu. Tak ada yang tahu seberapa gerah tetumbuhan di sana. Ia hanya akan bisa mengalir... sebisanya." - Dee -

Wednesday, June 08, 2005

[LISI] SEBUAH CATATAN SEJARAH - 3 -. SYRIA, SNAPSHOT AFRIKA TIMUR TENGAH MUSIM PANAS 1965..

yth rekan-rekan sekalian,
bersama ini saya kirimkan sebuah berita,
catatan dari pak ibrahim isa
dari milis LISI.
selamat menelaah!
salam,
yankoer,-IBRAHIM ISA7 Juni 2005.----------------------------------------CATATAN SEJARAH -(3): SYRIA "SNAPSHOT" AFRIKA-TIMUR TENGAH (1965)-----------------------------------------Dalam rangka mempersiapkan Konferensi Asia-Afrika Ke-2, yang menurut rencana akan dilangsungkan di Aljazair dalam musim panas 1965, pemerintah Indonesia mengirimkan sebuah misi, diberinama "Misi Safari Berdikari". Kunjungan dilakukan ke 11 negeri-negeri Afrika dan Timur Tengah. Delegasi Indonesia yang dikepalai oleh Waperdam Menlu Dr. Subandrio, a.l. termasuk juga di situ Menteri Negara Nyoto, Marsekal Udara M. Herlambang, Jendral T.M. Haryono, sejumlah wartawan; termasuk saya sendiri, wakil OISRAA di Sekretariat Tetap Gerakan Setiakawan AA di Cairo; dan sejumlah diplomat dan staf Deparlu, termasuk Ganis Harsono dan Alex Alatas. Saya diikutsertakan menjadi anggota Delegasi dengan fungsi sebagai "penasihat" Menlu. Tugas kongkrit: memberikan input situasi/kondisi kongkrit secara singkat-padat mengenai negeri-negeri Afrrika dan Timur Tengah yang akan kami kunjungi. Setiap kali sebelum pesawat mendarat di lapangan terbang suatu negeri, input yang saya susun itu sudah di tangan Menlu.Perjalanan Misi yang makan waktu hampir dua minggu dilakukan dengan menggunakan pesawat charter dari Garuda Indonesian Airways (GIA).Berikut ini teks laporan tsb yang masih ada pada saya. Ada satu dua yang belum saya temukan. Entah kececeran dimana. Maklumlah sudah hampir empat puluh tahun berlalu. Laporan sikon negeri-negeri tsb sudah dibundel pada akhir kunjungan Misi, dan dibagikan kepada anggota Delegasi. Saya masih ingat betul, ketika itu saya memperoleh kumpulan lengkap laporan saya yang sudah dibundel itu dari Sdr Alex Alatas, Staf Deparlu yang ikut dalam rombongan. Ketika itu namanya masih A l e x Alatas, masih belum menjadi petinggi Deparlu RI; kemudian ia mengganti namanya menjadi A L I A L A T A S; kira-kira sesudah Mochtar Kusumaatmaja tidak lagi menlu zaman Orba. Ketika dalam tahun 2001 saya berkunjung ke Bg Riset Deparlu di Pejambon Jakarta dan melakukan riset kecil, ternyata hampir semua dokumentasi sekitar akhir pemerintahan Presiden Sukarno dan permulaan Jendral Suharto naik panggung politik, ---- samasekali tidak ada. Entah kemana. Yang bertanggungjawag atas dokumentasi ketika saya tanyakan, menjawab singkat; Yang ada hanya ini, Pak. Habis cerita!Keadaaan itu saya cek dengan seorang mantan dubes yang tidak mau disebut namanya, menanyakan kepadanya, dimana dokumentasi Deparlu RI mengenai kegiatannya pada periode "pancaroba" tsb. Mantan dubes menjawab sambil berbisik: Diamankan Pak! * * * Di bawah ini, adalah laporan "snapshot" yang kebetulan masih ada pada saya.-----------------------------------------------------------KEADAAN POLITIK DI BERBAGAI NEGERI AFRIKA DAN TIMUR TENGAH:----------------------------------------------------------- Negara-negara yang dikunjungi :1. Aljazair, 2. Libanon, 3. Syria, 4. Irak, 5. Iran, 6. Somalia, 7. Sudan, 8. Kongo Brazaville, 9. Ghana, 10. Mali, 11. Guinea.SYRIA.Musim panas tahun 1965.Ada 4 kekuatan politik yang memainkan peranan utama di Syria, yaitu Partai Baath (dan penyokong-penyokongnya), Tentara, Partai Komunis dan golongan Naseris. Dari 4 kekuatan ini, Tentara memainkan peranan menonjol. Ini disebabkan karena Tentara ganti-berganti beraliansi/dipengaruhi oleh Partai Baath, Partai Komunis dan golongan Naseris. Ini pulalah yang menyebabkan timbulnya kup dan kontra-kup di Syria.Selama 3 tahun di bawah kekuasaan Cairo, Partai Baath dan Partai Komunis sudah banyak dilemahkan oleh tindakan-tindakan Nasser. Yang dilakukan Nasser di Syria: Mula-mula membersihkan orang-orang Komunis - melarang partai tsb - dan kemudian orang-orang Baath - juga partainya dilarang. Karena pukulan yang diberikan oleh Nasser lebih keras ditujukan kepda Partai Komunis, maka bagi Baath lebih mudah untuk memulihkan kekuatannya kembali sesudah persatuan dengan RPA menjadi pecah dalam bulan September tahun 1961.Pemerintah Jendral Amin El Hafez sekarang ini adalah suatu koalisi antara Temtara dengan Partai Baath. Meskipun di satu fihak Hafez tidak mengizinkan Baath campur tangan dalam urusan Tentara, dan dilain fihak pemimpin-pemimpin Baath menurut pengakuan Partai adalah pemimpin rakyat dan negara, namun, koalisi ini bersatu dalam satu hal: Membersihkan pemerintahan dari elemen-elemen Nasseris.Oleh karena itu, tidaklah heran bahwa, Republik Persatuan Arab (Cairo) sangat tidak senang terhadap pemerintah Hafez dan memobilisasi segala usaha untuk mendeskriditkan dan kemudian menggulingkan kekuasaan di Syria sekarang ini.Tentu saja, Hafez tidak tinggal diam. Ia balas memukul kembali. Dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Arab yang baru lalu di Alexandria, RPA, ia mengekspos tindakan-tindakan subversif yang dilakukan oleh RPA (Cairo) di Syria. Ketika Nasser menyatakan bahwa bangsa-bangsa Arab tidak bisa pada saat ini membebaskan Palestina, dan bahwa RPA tidak sanggup untuk berperang dengan Israel karena sebanyak 50.000 dari tentaranya sedang "bertugas" di Yemen, maka lagi-lagi Hafez menyerang Nasser secara terbuka. Tindakan Hafez yang cepat sekali mengakui pemerintahan baru di Aljazair baru-baru ini, juga dimaksudkan untuk menantang Nasser.Pengalaman Syria selama 3 tahun bergabung dengan Mesir dalam Republik Persatuan Arab (RPA) telah menimbulkan kebencian yang mendalam di kalangan Tentara, Partai Baath maupun Partai Komunis terhadap Nasser. Oleh karena itu koalisi diantara kekuatan-kekuatan ini kiranya tidak memungkinkan persatuan kembali dengan Mesir.Dalam Tentara sekarang ini terdapat dua golongan yang besar. Golongan "independents" dan golongan Baath. Dalam golongan Baath sendiri terdapat opsir-opsir yang tidak menyukai dan menentang terlalu banyaknya campur tangan Partai Baath dalam Tentara. Politik Hafez tampaknya lebih militan dalam menghadapi Israel dibanding dengan Mesir dan negeri-negeri Arab lainnya. Disamping menyerukan dilancarkannya konfrontasi total, termasuk berperang, Syria aktif mengorganisasi dan membiayai organisas-organisasi gerilya yang dari saat ke saat mengadakan serangan-serangan di sepanjang perbatasan Syria - Israel.Di bidang ekonomi Hafez telah menjalankan tindakan-tindakan nasionalisasi. Selain, Partai Baath memang menyatakan bahwa tujuannya adalah Sosialisme, tindakan ini dimaksudkan untuk mengkonsolidasi pemerintahannya dan memperoleh popularitas di kalangan massa. Namun, sangat sulit bagi Hafez untuk memperoleh sokogan massa yang luas selama ia tetap melakukan pengekangan terhadap hak-hak demokratis.Meskipun koalisi Tentara/Baath tidak stabil, namun, kedua golongan ini saling memerlukan untuk menghadapi golongan Nasseris dan Komunis.Partai Baath yang masih mempunyai cabang-cabang partai sesaudara di Jordania, Libanon, Irak dan juga di Lybia (pada umumnya sekarang bergerak di bawah tanah) tetap menyerukan untuk "Persatuan Arab". Tetapi sesudah Partai Baath dipukul oleh Jendral Aref di Irak, agaknya sulit bagi Baath untuk merealisasi tujuannya itu. Apalagi bila diingat bahwa "musuh" Syria yang paling besar di Selatan, ialah Mesir (RPA), tidak hanya merintango kegiatan Syria tetapi bahkan bekerja untuk digulingkannya rezim Baath dimanapun adanya. Nasser telah berkata bahwa selama Baath berkuasa di Syria - dan dahulu di Irak - maka persatuan (Syria) dengan Mesir adalah tidak mungkin.Berhubungan dengan tindakan Aref dari Irak baru-baru ini yang mulai menggeser beberapa tokoh dari golongan Nasseris dari pemerintahan, maka mungkin ada kesempatan baru bagi orang-orang Baath di Irak untuk memainkan peranannya dan dengan demikian memperbaiki hubungan antara Syria dengan Irak. Kalau ini terjadi maka lagi-lagi Mesir akan terpukul. Di Syria yang sejak kemerdekaannya selalu dijangkiti oleh kup dan kontra-kup tidak terdapat kekuatan anti-imperialis yang cukup konsekwen dan revolusioner.Kestabilan koalisi di Syria tampak dari kenyataan bahwa Partai Baath yang dalam zaman sebelum panggabungan dengan Mesir ada dalam satu front dengan Partai Komunis kemudian mengadakan koalisi dengan Tentara dan Nasseris untuk menghadapi kemajuan Partai Komunis dalam tahun 1958 dan mendesak diproklamasikannya penggabungan dengan Mesir, belakangan menjadi kekuatan yang ikut mempelopori keluarnya Syria dari RPA. Baath kemudian membersihkan orang-orang Nasseris dari pemerintahan yang baru.Partai Komunis Syria yang tadinya mempunyai pengaruh yang besar di kalangan Tentara dab nassa sekarang agak merosot karena pukulan-pukulan yang diberikan oleh Nasser selama penggabungan tempohari dan juga oleh karena pukulan-pukulan yang dideritanya dari Partai Baath. Sesudah Kongres Ke-8 Partai Baath seluruh Arab dalam bulan April 1965 y.l. terjadilan perubahan dalam pimpinan Baath Internasional. Michel Aflak, Sekjen sebelum Kongres, telah digeser dan digantikan oleh Raza. Dalam Internatinal Command Baath yang sekarang terdiri dari 17 orang itu, duduk 5 orang dari Syria. Presiden Hafez sendiri kini menduduki jabatan Sekjen Partai Baath unutk Syrian Command.Pimpinan Baath yang baru menunjukkan tendens yang lebih maju dibanding dengan yang lama. Perjuangan antara kekuatan kanan, tengah dan kiri berjalan terus dalam Baath. Namun, bisa dikatakan bahwa kecenderungan adalah kekiri.Demikianlah bisa dikatakan pada umumnya bahwa rezim Hafez pada saat ini dalam batas tertentu mencerminkan hasrat rakyat dalam perjuangan anti-imperialisme dan anti-feodalisme. Partai Baath yang sekarang ini, dibanding dengan kekuatan-kekuatan lainnya di negeri-negeri Arab, relatif adalah yang terbaik dalam sikap anti-imperialismenya.Dengan dipusatkannya kekuasaan oleh Hafez ditangannya sendiri --- Hafez sebagai Presiden menguasai pemerintahan, sebagai Panglima Tertinggi menguasai Tentara dan sebagai Sekjen Partai Baath menguasai Partai, maka rezim ini yang utamanya adalah Tentara, bisa dikatakan relatif stabil.Hafez yang melakukan nasionalisasi terhadap perusahaan-perusahaan besar belum mempunyai program yang jelas mengenai landfreform.Diantara pimpinan Baath di Syria, Hafez termasuk yang paling anti Nasser. Meskipun mayoritas dari Baath anti Nasser, tetapi ada elemen-elemen yang membela kerjasama dengan Mesir.Sebelum Panglima Tertinggi Hafez menguasai Tentara, yang langsung bertanggungjawab adalah KASAP-nya, yaitu Jendral Salah El Jadidi, yang juga merupakan tokoh kedua dalam Baath. Tampaknya ada kontradiksi antara Hafez dengan Jadidi, baik dalam soal-soal politik maupun soal-soal kekuasaan. Hafez dikatakan lebih baik dari Jadidi yang sangat dekat dengan Michel Aflak, bekas Sekjen Baath (International Command).Dengan segala cabangnya atau partai se-saudara yang ada di Libanon, Irak, Jordania dan Lybia yang bekerja secara ilegal, Partai Baath di Syria tidak dapat menjadi pelopor dari persatuan Arab, karena tidak mendapat dukungan massa Arab dan karena saingan Mesir yang potensi dan pengaruhnya lebih besar di kalangan massa rakyat Arab. Lagipula gembar-gembor persatuan yang dilancarkan oleh Syria itu, lebih banyak diilhami oleh ambisi lama untuk memulihkan "Syria Raya" yang meliputi Jordania, Libanon dan Palestina.Karena sikap Indonesia yang cepat mengakui pemerintah Syria sesudah pecahnya persatuan dengan Mesir, dan juga karena perbedaan garis politik luarnegeri antara Indonesia dengan Mesir, maka sikap Syria terhadap Indonesia adalah bersahabat. Sikap tegas Indonesia mengenai Israel juga meningkatkan derajat Indonesia di manta Syria.***[Non-text portions of this message have been removed]======================================================================Lingkar Ilmuwan Sosial Indonesia (LISI) adalah forum untuk menggagas dan mempertukarkan ide baru serta mengembangkan ilmu pengetahuan sosial. Dalam LISI, topik-topik diskusi ditinjau dan dianalisis dari beragam perspektif yang memungkinkan proses pendidikan dan pembelajaran kolektif yang mendukung kemajuan anggota dan masyarakat Indonesia umumnya.======================================================================1. Untuk berhenti berlangganan, kirimkan e-mail kosong ke: LISI-unsubscribe@yahoogroups.com2. Untuk berlangganan, kirimkan e-mail kosong ke: LISI-subscribe@yahoogroups.com3. Untuk menghindari penyebaran virus, pengiriman attachment file tidak dimungkinkan, kecuali via moderator.4. Bahasa Resmi dalam LISI: Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.5. Netters LISI diminta sebisa mungkin menghindari "posting a la chating".

KILAS BALIK FORUM LINGKAR PENA

Yanuardi Syukur*

FLP Pusat
MASJID UI, 22 Februari 1997. MIMPI ITU BERAWAL DI SINI: ketika Helvy Tiana Rosa (HTR), Asma Nadia, Muthmainnah dan beberapa rekan lainnya mengadakan temu kangen sesama alumni Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Padjadjaran (Unpad). Mulanya sekedar silaturrahim biasa, namun topik pembicaraan pun beralih pada kekhawatiran minimnya minat membaca dan menulis di kalangan remaja saat itu.
Forum kecil itu tiba-tiba saja berubah menjadi ajang diskusi yang hangat. Percakapan berlanjut sampai pada kenyataan semakin mendesaknya kebutuhan ummat akan bacaan yang aspiratif, objektif dan bertanggungjawab. Di sisi lain sebenarnya cukup banyak remaja yang mempunyai keinginan berkiprah dalam dunia kepenulisan, namun mereka bingung karena tidak adanya atau kurangnya media yang mampu menyalurkan potensi ide mereka. Atau intensitas menulis mereka rendah karena tidak adanya organisasi yang mampu memberikan kaderisasi penulis yang tidak hanya secara teknis tapi juga menggerakkan motivasi dan semangat mereka berkarya lebih intens lagi. Peserta forum ini juga menyadari bahwa dakwah melalui tulisan akan terasa lebih efektif dibandingkan dengan media lain.
Akhirnya disepakatilah saat itu untuk membentuk sebuah organisasi penulis. Mereka menyadari bahwa organisasi kepenulisan di negeri ini tidak terhitung jumlahnya, tetapi organisasi kaderisasi penulisan rasa-rasanya waktu itu belum ada. Maka berdirilah Forum Lingkar Pena (FLP) hari itu. Helvy Tiana Rosa secara aklamasi dipilih menjadi ketua umum yang pertama. Lambang FLP pertama kali adalah Pena yang melingkari Bumi dengan semboyan: Berbakti, Berkarya dan Berarti. FLP yang baru saja berdiri—dengan jumlah anggota yang tak lebih dari 50 orang— tersebut mulai mengadakan acara rutin bulanan berkaitan dengan dunia kepenulisan untuk anggota dengan mengundang pakar yang kompeten. Selain itu, juga mengadakan bengkel-bengkel penulisan secara kecil-kecilan dan terus merekrut anggota baru.
Pada tahun 1998, Forum Lingkar Pena (FLP) pernah bergabung dan menjadi badan otonom Yayasan Prakarsa Insan Mandiri (PRIMA). Akan tetapi pada Munas I FLP di Hotel Kaliurang, Yogyakarta (25-27/02/2005), diperoleh keputusan agar FLP membuat badan hukum tersendiri. Pada tahun yang sama, seorang penulis muda dari Kalimantan Timur: Muthi Masfu’ah, mendirikan FLP Wilayah Kaltim yang berpusat di Bontang serta cabangnya di Samarinda dan kemudian Balikpapan. Inilah kepengurusan wilayah pertama dalam sejarah FLP. Pada tahun 2000, mulai banyak permintaan dari daerah untuk membentuk kepengurusan FLP di tiap propinsi.
Pada April 2000. Ketua Umum Pusat FLP, HTR membawa rancangan FLP kepada Ahmad Mabruri, General Manager (GM) Ummi Group (Majalah Annida, Ummi dan Saksi). GM dan mitra kerja di Ummi Group tertarik dan sepakat untuk mengadakan berbagai kerjasama dengan FLP. HTR juga mengajak beberapa teman dari penerbitan untuk bergabung dengan FLP. Di antaranya ketika itu Helfino Berry dari Asy Syaamil dan Ali Muakhir dari Penerbit Mizan. Mereka antusias untuk menerbitkan karya berkualitas dari teman-teman FLP.
Sementara majalah Annida yang dipimpin Mbak Helvy waktu itu, membuat satu rubrik khusus berisi info FLP dan mengadakan rekruitmen anggota baru. Hasilnya mengejutkan! Lebih dari 2000 orang mendaftar menjadi anggota melalui Annida. Ditambah lagi hingga kini, berdasarkan masukan setiap wilayah, tak kurang lebih dari 2500 sampai 3000 orang mendaftarkan diri melalui berbagai acara yang digelar oleh perwakilan-perwakilan FLP di seluruh Indonesia. Hingga tahun 2005, anggota FLP telah beranggotakan sekitar 5000 orang yang berasal dari 100 kota di seluruh Indonesia dan mancanegara (Mesir, Eropa, Jepang, Hong Kong, Amerika, Singapura, Belanda), menerbitkan sekitar 400 buku, serta bekerjasama dengan lebih dari 20 penerbit di Indonesia.
Pada Milad VIII dan Munas I FLP di Yogyakarta disepakati beberapa keputusan di bawah ini: Menetapkan AD/ART FLP; menetapkan Majelis Penulis (Ahmadun Yosi Herfanda, Fahri Asiza, Gola Gong, Izzatul Jannah, Joni Ariadinata, Jamal D. Rahman, Muttaqwiati, Novia Syahidah, Pipiet Senja, Sinta Yudisia, Yus R. Ismail, Boim Lebon, Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, Maimon Herawati); dan menetapkan Muhammad Irfan Hidayatullah (Mantan ketua FLP Jawa Barat/ Dosen Sastra Unpad) sebagai ketua umum FLP Pusat Periode 2005-2009.

FLP Wilayah Sulsel
AKHIR MILLENIUM KEDUA, tahun 2000. Rahmawati Latief—pembaca setia majalah Annida—menceritakan kepada sahabatnya tentang FLP yang memiliki perwakilan wilayah dan cabang yang tersebar hampir di pelosok tanah air dan mempunyai rubrik khusus di Majalah Annida. Ternyata gayung bersambut, sang sahabat tadi merespon. Akhirnya Rahmawati melakukan korespondensi dengan ketua FLP Pusat, Helvy Tiana Rosa. HTR memberikan kesempatan besar kepada Makassar untuk membuka perwakilan wilayah karena pada waktu itu belum ada perwakilan FLP di Bumi Hasanuddin ini. Sitti Nur Sakinah Kadir, Rahmawati Latief, dan Hasnah A. Rahman adalah sejumlah akhwat yang terlibat dalam proses pembentukan FLP Wilayah Makassar.
Akhirnya diumumkanlah secara resmi terbentuknya FLP Wilayah Makassar dalam rubrik Informasi FLP di Majalah Annida edisi Maret 2001. Mulai saat itu gelombang peminat yang ingin mendaftarkan diri sebagai anggota mulai ramai bermunculan. Rapat perdana pun digelar bagi peminat FLP pada tanggal 10 Juni 2001, dan memutuskan membentuk Tim Persiapan Pembentukan FLP Wilayah Makassar. Tim persiapan ini menghubungi sejumlah penulis muslim, penulis dan juga aktivis dakwah organisasi intra dan ekstra kampus khususnya di Unhas, untuk diajak bergabung. Muhary Wahyu Nurba, Anil Hukma, Nurbing Asselayari, Ahmad Syam, Anna Mardiana Haris, Rahma ZM, Ruchwana Tenrisima adalah sejumlah nama penulis di Makassar yang menyatakan ikut bergabung dengan FLP.
MIMPI ITU AKHIRNYA MENJELMA. Masjid Pusat Dakwah Muhammadiyah Sulsel menjadi saksi kisah mimpi itu. Dengan dihadiri 31 peminat FLP pada Ahad 29 Juli 2001 telah mengakhiri kerja tim persiapan pembentukan FLP Wilayah Makassar dengan terbentuknya pengurus FLP secara demokratis dengan formasi sebagai berikut. Dewan Penasehat: Muhary Wahyu Nurba (koord.), Ahmad Syam, Nurbing Asselayari, Anil Hukma dan Sitti Nur Sakinah Kadir; Ketua: Rahmawati Latief, Sekretaris: Hasnah A. Rahman, Bendahara: Masrurah Usman, Divisi Penulisan dan Penerbitan: Muhammad Nurhidayat Kaban (koord.) dengan anggota Adi Agus MS, Saifullah Wirahadi Yusuf, Jaya Kurniawan Auza, Fahmi Hamzah, Mustain Ruddin, Wahyuddin, Abu Jaula, Ruchwana Tenrisima, Anna Mardiana Haris, Rahma ZM, Ainun Jairiyah, Yessi Juniaty, Ulfah Alifia, Andi Rezky Puspita Ayu, Ita Handayani Hasan, Nilam Indahsari Sirathak, Retno Nugraeni, dan Sulastiana Syamsul. Divisi Pengembangan Sumber Daya Manusia: Kamaruddin (koord.) dengan anggota Yanuardi Syukur, Ahmad Taufik Azis, Burhanuddin, Tri Jaka Perkasa, Afif Ridha, Erfian Nur Dirman, Misbahuddin, Fauziah Rahim, Jabariah Abbas, Rochmiani, Nahidah, Retno Anggarini Gussalim, Maryam Nur Fatkhanni, Wardani Mustari, Yayah Siti Rokayah, Fatimah, Hasniar AR, Sudarmi, dan Nur Rahmawati. Divisi Dana dan Usaha: Suryani F Djamaluddin (koord.) dengan anggota Nurhayati, Zia Nurul Zahbia, Widyawati, Fitriani Alimin, Anna Islamiyati, Nur Hasnawaty, Lia Yulianty, Nur Wahyuni Salam, Nur Hajriani, dan Roswita.
Selanjutnya, pada rapat kerja FLP, 31 Agustus 2001, ditetapkanlah 17 program kerja yang akan dilaksanakan untuk masa waktu yang tidak ditentukan, karena pembahasan dasar organisasi FLP secara umum belum tuntas hingga saat itu. Susunan pengurus di atas, belakangan hari di-reshuffle demi efektivitas kinerja organisasi. Kepengurusan di atas berlaku sejak Agustus 2001-Juni 2002.
Di antara kegiatan yang dilaksanakan pada masa ini adalah: Registrasi anggota, pemungutan iuran pengurus dan anggota biasa, bedah buku, pengiriman karya anggota, diklat jurnalistik Islami, diskusi rutin dan bengkel kepenulisan.
Pada 6-8 Juli 2002, dalam rangka Silaturrahmi Nasional (Silnas) dan Milad Lima Tahun FLP (1997-2002), maka FLP Wilayah Makassar mengutus Yanuardi Syukur (anggota divisi PSDM) untuk menghadiri kegiatan yang berlangsung di Gedung Dinas Kebudayaan DKI Jakarta dan Graha Wisata Kuningan Jakarta.
Pada tahun 2003 terjadi reshuffle pengurus. Di masa ini kegiatan FLP kurang terdengar. Salah satu sebabnya karena kesibukan ketua FLP dalam rangka melanjutkan kuliah S2 di negeri-nya Siti Nurhaliza, Malaysia. Hingga saat diterima menjadi dosen di Universitas Tadulako (Untad) Palu, ketua FLP menyerahkan Pjs pada Sriyanti Anwar beberapa bulan awal tahun 2004.
Pada bulan Maret 2004, setelah pada rapat suksesi kepengurusan tidak membuahkan hasil, akhirnya forum memilih Yanuardi Syukur sebagai ketua FLP baru melanjutkan sekaligus menggantikan Rahmawati Latief yang masih mengajar di Palu. Formasi kepengurusan saat itu adalah, ketua; Yanuardi Syukur, sekretaris; Fatmawati, bendahara; Retno Anggarini Gussalim, divisi Penulisan dan Penerbitan: S. Gegge Mappangewa (koord.), divisi PSDM: Lilis Basiradanuwijaya (koord.).
Di awal kepengurusan, boleh dikata tiap minggu selalu rutin diadakan bedah cerpen dan diskusi menulis. Akan tetapi, deadline pembuatan kumpulan cerpen wilayah sampai kini mengalami kendala. Belum terlaksana.
Pada 25-27 Februari 2005, FLP Wilayah Makassar mengutus tiga pengurusnya yakni Yanuardi Syukur (ketua), S. Gegge Mappangewa (koord. DPP), dan Adi Agus M Sewang (anggota DPP) menghadiri Milad ke-8 dan Musyawarah Nasional (Munas) I FLP di Yogyakarta. Kembali dari Munas, kemudian diubah nama FLP wilayah yang sebelumnya Makassar menjadi Sulawesi Selatan karena dalam AD/ART FLP, wilayah setara dengan propinsi, cabang dengan kotamadya, dan ranting dengan kampus, sekolah atau kecamatan.
Selanjutnya demi efektivitas organisasi, diadakan kembali reshuffle pengurus. Komposisi pengurus FLP Wilayah Sulsel, 2004-2006 adalah sebagai berikut: ketua, Yanuardi Syukur; sekretaris, Hamran Sunu SH; bendahara, Murgibah Marshanda; Divisi Penulisan dan Penerbitan (DPP), S. Gegge Mappangewa, ST. (koord) dengan anggota Rahmad M. Arsyad, Fajlurrahman Jurdi, Nurul K Wardhani, dan Asriyah, ST; divisi Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM), Adi Agus M. Sewang, S.Si (koord) dengan anggota Lilis Basiradanuwijaya, Sitti Mukarramah, dan Surya R; sedangkan divisi Dana dan Usaha, Wahyudi (koord) dengan anggota Rimbawan, Iswandi K Ramen, dan Muhammad Amir.
Pada tanggal 16 2005 terbentuk FLP Cabang Makassar di Masjid Ulil Albab Universitas Negeri Makassar (UNM) Parang Tambung. Forum menyepakati komposisi pengurus sebagai berikut. Ketua; Suherni Aisyah Syam, Bendahara; Rahmatan, Divisi Penulisan dan Penerbitan; Muchniart (koord); Divisi PSDM; Anwar Abbas (koord.); Divisi Dana dan Usaha; Rahmawati (koord).
Setelah terbentuk FLP Cabang Makassar, kemudian ada tawaran dari beberapa aktivis lembaga di Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin untuk membentuk ranting FLP. Akhirnya, setelah mengadakan musyawarah, disepakatilah formasi FLP Ranting UIN Alauddin sebagai berikut: Aswadi (ketua), Zulbiadi (sekretaris), Raodah (bendahara) dan dua divisi di bawahnya.

Strategi FLP ke Depan
Ada sembilan hal penting bagi pengembangan FLP ke depan sebagaimana hasil sidang Komisi B Munas I FLP 2005 di Yogyakarta.
Pertama, FLP tetap menjadi organisasi kepenulisan inklusif yang berazaskan Islam;
Kedua, FLP harus semakin terlibat dalam dunia kepenulisan yang seluas-luasnya tanpa mengabaikan ciri dan keunikannya;
Ketiga, FLP diharapkan terus menjadi pendorong perkembangan dunia kepenulisan di tanah air dan dunia internasional;
Keempat, FLP diharapkan menjalin hubungan baik dengan pihak-pihak yang mendukung visi dan misi FLP;
Kelima, FLP mengukuhkan lahirnya genre baru di bidang kepenulisan;
Keenam, FLP menjamin mekanisme dan sistem kontrol terhadap kualitas karya anggotanya;
Ketujuh, FLP melahirkan kritikus-kritikus untuk meningkatkan kualitas karya anggotanya;
Kedelapan, FLP membentuk dokumentasi karya anggotanya;
Kesembilan, FLP pro-aktif dalam proses kontrol sosial berbagai media massa.
Tentunya perlu penjelasan lebih lanjut secara praksis turunan dari kesembilan hal di atas. Ke depan seiring dengan bertambahnya cabang serta ranting FLP, maka selayaknya memacu kita untuk semakin menghasilkan banyak karya bermutu. Apakah dalam bentuk fiksi atau non fiksi. Tentunya kerja dakwah bilqolam yang diemban FLP perlu dibangun dengan bangunan tim yang kuat yang dari sinilah akan menggerakkan roda organisasi agar tetap eksis.
Bagi FLP’ers, mari tetap berjuang dan banyak-banyak hasilkan karya!
Makassar, 18 Mei 2005

* Ketua umum FLP Wilayah Sulsel periode 2004-2006

Saturday, May 14, 2005

finally!!!

Dengan mengucap Bismillahirrahmannirrahiim...
jadilah blog ini khusus teman-teman yang ingin menulis agar tak punah (kayak k aslan saja!)
yang mau nulis apa aja, silahkan tuangkan semua yang ada di pikiran dan hati.
menulislah! menulislah!
tetap semangaaat!!!